Penjelasan Lengkap Fauna Peralihan di Indonesia

Fauna peralihan adalah pengelompokan terhadap berbagai hewan yang tinggal di wilayah Indonesia bagian tengah dan dibatasi garis Wallace.


Penjelasan Mengenai Fauna Peralihan

Pembahasan yang lengkap dan menyeluruh mengenai topik fauna Indonesia bagian tengah ini masih belum memadai.

Umumnya artikel lain yang sudah terlebih dahulu menjelaskannya, hanya membahas seputar contoh makhluk dan persebarannya, belum sampai kepada definisi yang detail dan mendalam.

Entah karena keterbatasan informasi dan data, atau memang yang pada dasarnya mereka malas untuk melakukan riset dan penelitian, namun artikel mereka sangatlah sederhana.

Maka dari itu saya didalam artikel ini akan membawa pemahaman yang lebih eksplisit dari topik seputar fauna tipe peralihan ini.

Tanpa basa-basi langsung saja kita mulai pembahasan dan pengamatan kita tentang salah satu dari kategori penggolongan macam makhluk hidup ini.

Definisi Fauna Peralihan

Semua jenis binatang yang tinggal di wilayah Indonesia bagian tengah dinamakan dengan fauna peralihan.

Yang artinya adalah, segala macam jenis hewan yang tinggal di daerah yang dibatasi oleh garis imajiner Wallace, garis tersebut memanjang dari selat Lombok yang memisahkan pulau Bali dan Lombok hingga ke selat Makassar yang memisahkan pulau Kalimantan dengan Sulawesi.



Daerah Wallachia adalah sebuah ide dan gagasan mengenai suatu wilayah di kepulauan asia tenggara tepatnya di Indonesia bagian tengah yang terpisah atau mengalami isolasi dari dataran utama, baik itu paparan Sunda (perpanjangan dari benua Asia saat zaman es) dan paparan Sahul (perpanjangan dari benua Australia saat zaman es).

Meliputi pulau Sulawesi dan beberapa pulai kecil disekitarnya, Kepulauan Nusa tenggara seperti Lombok, Timor, Sumbawa, Flores, dan Sumba serta Kepulauan Maluku dan pulau Buru.

Pelopor dan penggagas teori adalah Alfred Russel Wallace, seorang naturalis dan ahli biologi asal Britania Raya yang meneliti keunikan dari persebaran fauna flora yang ada di nusantara.

BACA JUGA : Indonesia - Norwegia Berbisnis Karbon, Apa itu Bisnis Karbon?

Hewan-hewan yang tinggal di daerah Wallacea dipengaruhi baik oleh pengaruh dari benua Asia maupun juga dari benua Australia.

Namun tetap, keunikan yang dapat ditemukan di wilayah Indonesia bagian tengah adalah faunanya yang endemik atau tidak bisa ditemukan spesiesnya di tempat yang lain, tapi hanya sebatas kedalam tingkat taksonomi spesies.

Ini menjadi kelebihan dari wilayah tersebut dimana satwa yang khas memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan para naturalis yang ingin mengadakan penelitian.

Isolasi yang terjadi pada regional wallacea disebabkan oleh adanya laut dan selat yang dalam yang membatasi ruang gerak hewan-hewan dari Asia maupun dari Australia untuk melakukan migrasi dan persebaran untuk berkembang biak dan menemukan lahan baru menuju Indonesia bagian tengah.

Namun, walau dalam keadaan terkurung oleh lautan dan tidak ada akses masuk melalui daratan, buktinya masih ada juga satwa yang dapat bermigrasi dan tinggal di pulau Sulawesi ataupun Flores di selatan.

Satwa-satwa tersebut dapat bermigrasi dikarenakan mereka bergerak saat Sundaland (perpanjangan dari benua Asia) masih menyatu dengan pulau Sulawesi saat masa sebelum Pleistosen/zaman es atau Pliosen yang berlangsung paling singkat setidaknya 2 juta tahun yang lalu.

Kehidupan Purba di Daerah Wallacea


Beberapa bukti yang bisa kita dapatkan adalah ditemukannya fosil babi purba dengan nama latin Celebochoerus heekereni, dan gajah purba bergading empat dengan nama ilmiah Elephas celebensis di pulau Sulawesi.

Serta ditemukannya juga fosil gajah purba kerdil dari dua spesies yang berbeda, yaitu Stegodon floresiensis dan Stegodon sondaari dari pulau Flores.

Yang mana kita ketahui sendiri jika hewan-hewan tersebut bercorak asiatis dan berasal dari benua Asia, karena tidak ada dan tidak pernah ditemukan tulang belulang maupun peninggalan berupa fosil dari babi dan gajah di benua Australia.

Jika tadi  sebelumnya kita membahas mengenai pengaruh asiatis, maka kali ini kita juga akan membahas unsur australis yang juga berpengaruh dalam biodiversitas dalam ekosistem di kawasan wallachia.

Kalau kita menelusuri jejak keturunan dan silsilah generasi pada satwa reptil endemik asal pulau Flores yakni Komodo, maka itu sangatlah memiliki jalur keturunan dan kekrabatan dengan kadal purba raksasa bernama Megalania (Varanus priscus).

Namun bukan berarti Komodo yang ada sekarang ini (Varanus komodoensis) merupakan keturunan dan cucu cicit dari kadal Megalania yang telah punah di benua Australia tersebut. Mereka hanya berbagi jalur kekrabatan yang dekat dan kemungkinan berasal dari nenek moyang yang sama.

Komodo pun juga diketahui berkonfrontasi secara langsung dengan beberapa megafauna lainnya seperti manusia purba (Homo floresiensis) dan gajah kerdil purba yang sudah ada sekurang-kurangnya 1 juta tahun yang lalu.

BACA JUGA : Lihatlah Bagaimana Alam Telah Membentuk Manusia!

Karena tinggal dalam lingkungan yang terisolasi dalam pulau dan ditemukannya sumber makanan yang besar dan banyak dalam hal ini manusia purba dan gajah kerdil mengakibatkan Komodo mengalami insular gigantisme, yakni suatu keadaan dimana membesarnya ukuran rata-rata sebuah spesies saat terisolasi di suatu pulau.

Sehingga tubuh Komodo yang ada saat ini memang dirancang untuk memangsa mamalia besar seperti rusa, kambing, kerbau, hingga gajah pigmi.
.

Contoh-Contoh Fauna Peralihan di Masa Sekarang

Berikut adalah beberapa satwa yang hidup di wilayah peralihan. Yang harus digarisbawahi dalam daftar ini adalah hewan tersebut harus yang endemik dan tinggal di wilayah peralihan saja (tidak ditemukan di tempat lain) dan tidak ada unsur campur tangan manusia dalam mendatangkan hewan tersebut, karena beberapa hewan juga didatangkan dari luar pulau seperti kuda di sumbawa sehingga tidak termasuk kedalamnya.

1. Anoa

Memiliki nama latin Bubalus .sp yang mana terbagi kedalam 2 jenis spesies yang berbeda yakni anoa dataran rendah (Bubalus desdrepassicornis) dan anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). 

Memiliki bentuk morfologi dimana anoa dataran rendah lebih besar daripada Anoa pegunungan. 

Anoa memiliki pengaruh dan sentimen asiatis yang sangat kuat, jika kita telusuri lebih mendalam mengenai nenek moyangnya dan garis keturunannya yang termasuk kedalam keluarga Bovidae dan dengan genus Bubalus berasal dari benua Asia.

Yang pada akhirnya, Bubalus terpecah-pecah hingga menjadi banyak jenis seiring menyebarnya mereka keseluruh bagian penjuru di bumi, ada yang menjadi banteng, sapi, kerbau, bison dan salah satunya ialah anoa.

Jalur migrasi dan asal usul kedatangan anoa ke nusantara dapat dibagi kedalam dua hipotesis, yakni:

A. Rute Insular/Kepulauan

Yakni melalui pulau Formosa yang terhubung dengan dataran Tiongkok pada masa pleistosen, dan terus terhubung dengan kepulauan di Filipina hingga akhirnya ke Sulawesi. 

Bukti yang bisa kita dapatkan dari teori ini adalah dari satwa endemik asli pulau Mindoro di Filipina, tamaraw (Bubalus mindorensis) yang mirip dan memiliki kekrabatan dengan anoa dan saudara sapi-bantengnya yang lain.

B. Rute Land Bridge/Jembatan Darat

Rute selanjutnya terlihat lebih memungkinkan dan lebih masuk diakal karena melalui daratan benua Asia yang lebih besar, yakni melalui Myanmar dan Indochina lalu masuk ke paparan Sunda yang saat itu masih merupakan daratan.

Karena saat itu zaman es/pleistosen sehingga muka air laut turun dan banyak laut dangkal disekitaran semenanjung malaya mengering dan terhubung dengan daratan menuju pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa.

2. Komodo

Reptil ganas yang mendiami beberapa pulau di kepulauan Nusa tenggara antara lain pulau Flores, Rinca, Gili Motang dan Gili Dasami. Sebagai kadal terbesar yang masih hidup di dunia ini, Varanus komodoensis (nama latinnya) memiliki panjang sekitar 3 meter dengan berat hampir 100 kg.

Diperkirakan penyebab kenapa kadal Komodo ini memiliki ukuran tubuh yang besar adalah akibat dari adanya insular gigantisme, dan sumber makanan yang banyak memadai di pulaunya.

Seperti saat gajah purba kerdil masih hidup dan yang sekarang ini seperti rusa dan kerbau.

Komodo memiliki kekrabatan yang dekat dengan saudara jauhnya yang berasal dari benua Australia, Megalania namun sayangnya kadal itu sudah punah dan berkonfrontasi dengan manusia aborigin.

3. Tarsius

Satu-satunya primata yang ada dan tinggal di wilayah peralihan adalah dari genus Tarsiidae. Spesies ini memiliki wilayah persebaran yang cukup luas walaupun hanya di regional Asia tenggara.

Tarsius yang ada di Sulawesi kemungkinan besar adalah keturunan yang sama dengan spesiesnya yang lain yang bisa ditemukan di tempat lain di kawasan Nusantara seperti Sumatera dan Kalimantan.

Sehingga Tarsius termasuk kedalam fauna peralihan yang dipengaruhi oleh sentimen asiatis.

4. Burung Maleo

Unggas yang hanya tinggal di beberapa daerah pulau Sulawesi ini memiliki nama binomial Macrocephalon maleo.

Burung ini memiliki jalur persamaan keturunan yang sama dengan ayam hutan, burung puyuh, dan kalkun.

Para ilmuwan masih berbeda pendapat mengenai awal mula burung ini, apakah melalui benua Asia ataukah benua Australia.

Namun jika kita jeli dalam melihat taksonomi dari burung maleo ini maka akan mengarahkan kita kepada kelas Neoaves, dalam ordo Galliformes.

BACA JUGA : Membuang Sampah Pada Tempatnya Tidak Menyelesaikan Masalah

5. Kupu-Kupu Sulawesi

Pulau Sulawesi adalah wilayah dengan tingkat keanekaragaman varietas kupu-kupu yang paling tinggi di Indonesia. Salah satunya yang tidak dapat ditemukan di tempat lain yaitu spesies kupu-kupu bidadari (Cethosia myrina).

Kupu-kupu ini termasuk kedalam kupu-kupu sayap renda, karena bentuk sayapnya yang berenda-renda, atau bisa dibilang berlekuk-lekuk.

Keberadaan kupu-kupu ini sudah mulai langka di alam liar. Diketahui juga harga jual kupu-kupu ini bisa mencapai hingga US$ 50 atau setara Rp. 700,000 per ekor di tangan para kolektor.

6. Babirusa

Babyrousa babirussa adalah makhluk yang unik dan sangat khas. Tidak ada tempat lain di dunia ini untuk bertemu dengannya selain di Celebes (Sulawesi).

Masih termasuk ke dalam keluarga Suidae dan termasuk kedalam hewan berkuku genap sama halnya dengan babi dan celeng, jadi tidak ada hubungan kekrabatannya dengan rusa.

Babirusa masih memiliki hubungan DNA dengan kerabatnya yang berasal dari daratan utama, saat paparan sunda masih belum tergenang lautan, kemungkinan mereka bisa sampai ke nusantara. Bukti yang ditemukan tentang babi purba lainnya yang ada di Celebes adalah fosil dari Celebochoerus Heekereni.

7. Burung Julang

Unggas terbang yang satu ini memiliki daya pikat bagi banyak orang apalagi bulunya yang berwarna-warni dan indah yang juga menimbulkan kerugian baginya, yaitu selalu diburu oleh manusia.

Terlepas dari sedikitnya jumlah di alam lepas saat ini, burung ini sebenarnya mirip dengan burung rangkong yang ada di Borneo dan Sumatera.

Namun yang membingungkan dari burung ini adalah masalah penamaan ilmiah dan taksonominya.

Julang Sulawesi memiliki nama latin Rhyticeros cassidix, sedangkan Rangkong Gading Kalimantan memiliki nama ilmiah Rhinoplax vigil.

Burung enggang termasuk ke dalam famili Bucerotidae yang terdiri dari 57 spesies yang tersebar di seluruh dunia, ada yang berasal dari Afrika selatan, India, Papua Nugini, Filipina hingga kepulauan Solomon.

Sehingga penamaan burung rangkong sebagai satu hewan yang sama semua adalah sebuah kekeliruan besar jika disandingkan dengan taksonomi, sama halnya dengan penamaan gajah padahal antara gajah asia dan gajah afrika sudah merupakan dua spesies makhluk yang berbeda.

8. Kuskus

Mamalia kecil nan imut yang tinggal bergelantungan di pohon ini ternyata adalah termasuk ke dalam marsupial yang artinya menyimpan anaknya pada sebuah kantong hingga tumbuh besar dan mampu untuk mencari makanannya sendiri.

Persebaran kuskus di wilayah Indonesia tidak hanya terdapat di wilayah peralihan yakni Sulawesi dan Maluku, namun juga di wilayah yang dipengaruhi kuat oleh satwa Australia seperti Papua.

Ini menandakan jika kuskus adalah binatang di daerah Wallachia yang memiliki corak Australis.

Terlebih lagi statusnya sebagai marsupial, yang mana kita semua ketahui jika benua Australia adalah rumah dan pusat bagi mamalia berkantong/marsupial.

9. Soa-Soa Layar

Satwa yang kali ini juga termasuk ke dalam kelas reptil, memang wilayah tropis dan panas memiliki banyak reptilnya.

Soa-soa adalah reptil yang hidup secara semi-akuatik dan mereka dianugerahi kemampuan berenang yang bagus dan lincah untuk bisa meluncur di sungai ataupun perairan rawa.

Dia bisa menjadi perenang yang handal berkat morfologi bentuk tubuhnya yang mana ekornya berbentuk seperti layar yang dapat memberikan gaya dorong terhadapnya di air.

Bentuknya hampir mirip dengan bentuk rekonstruksi wujud spinosaurus tahun 2020, yang mana ekornya memiliki semacam layar dan pipih.

Soa-soa tersebar mulai dari pulau Sulawesi, Togian, Buton, Ambon, Seram, Bacan, Halmahera dan bahkan Filipina.

Kerabat dari Australianya adalah kadal naga air australia (Intellagama lesueurii), yang masih dalam keluarga yang sama yakni Agamidae.

10. Burung Kakatua Maluku

Satu lagi hewan dari bangsa unggas yakni burung kakatua yang sering menirukan suara apapun yang ia dengar. 

Namun yang ada di pulau Maluku ini bukan burung sembarangan, dengan nama latin Cacatua moluccensis

Burung ini hanya akan dapat ditemukan di wilayah kepulauan Maluku selatan meliputi pulau Seram, Haruku dan Saparua.

Tersebar secara masif mulai dari pulau Tasmania lalu ke benua Australia dan sampai ke Papua dan juga Maluku, Sulawesi hingga Filipina.

Yang menandakan burung ini adalah fauna peralihan yang kuat akan unsur australis.

Sumber Referensi :
Pada penutupan artikel mengenai fauna peralihan yang hidup di wilayah Indonesia bagian tengah yang mana juga dipengaruhi oleh fauna bercorak asiatis dan australis.
Nafisathallah
Seseorang yang mengagumi ilmu pengetahuan.

Related Posts

Post a comment