MEMBUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH


     Sepertinya masalah terbesar bagi umat manusia modern sekarang ini adalah masalah pembuangan limbah. Dari awal abad ke-18 hingga sekarang ini, sebagian besar dari umat kita tampaknya masih kesusahan dalam menangani dan mengelola ampas yang mereka hasilkan. Limbah dan sampah buangan yang berbahaya telah mencemari dan mengkontaminasi sendi-sendi kehidupan di bumi ini, ada yang dampaknya sudah terasa dan ada beberapa lagi yang tinggal menunggu waktu, semua ini tentu saja tanggung jawab manusia untuk membereskannya. Sejak kecil pun kita selalu diajari dan diberitahu baik itu oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah untuk selalu membuang sampah ke tempatnya, seperti tong sampah dan TPS. Lalu parahnya, buku-buku pelajaran di sekolah pun nampaknya tidak menjelaskan mengenai sampah yang dibuang ke tong sampah sebenarnya belum menyelesaikan masalah yang sesungguhnya.
     Namun, apakah saudara-saudara sekalian ingin mengetahui realita yang memilukan yang sebenarnya terjadi di lapangan? Kita membeli sebungkus makanan, lalu kita memakannya, menyisakan bungkusan plastik dan styrofoam tempat untuk mengemas makanan, yang mana itu kita buang ke tempat sampah terdekat dari kita. Lantas, apakah berakhir disitu? Apakah kita langsung menyelamatkan dunia dengan hanya memasukkannya ke sebuah tong berukuran 1m x 1,5m tersebut? Sesungguhnya, memang merupakan tindakan terpuji membuang sampah pada tempatnya, berbanding terbalik dengan membuang sampah sembarangan yang merupakan tindakan iblis bagi lingkungan. Namun alangkah lebih baik lagi jika kita menyelesaikan masalahnya (sampah tersebut) tepat setelah kita selesai memanfaatkannya, dan tidak mengikutsertakan serta merepotkan orang lain atas sampah yang kita buat dan menjadi tanggung jawab kita sendiri. Yakni dengan daur ulang secara mandiri , Recycle!



     Karena sesungguhnya membuang sampah hanyalah suatu pekerjaan yang membantu memudahkan pekerjaan pengangkut sampah dan memindahkannya ke suatu tempat agar mudah diangkut truk sampah. Tidak menyelesaikan masalah sampah tersebut, yang mana masalahnya benar-benar terselesaikan jika benar-benar kita lenyapkan dari muka bumi baik itu dengan cara insenerator (dibakar) ataupun didaur ulang. Namun saya tidak menyarankan untuk melakukan pembakaran sampah, karena polusi yang dihasilkan akan lebih berdampak negatif dan material yang kita bakar akan lenyap begitu saja, tidak menguntungkan bagi kita, malah hanya membuat kita sesak nafas. Jika didaur ulang, maka material tersebut tidak akan disia-siakan dan akan berguna bagi pemakainya.
     Kemana itu semua akan berakhir? ke Tempat Pembuangan Akhir yang menjadi tempat bagi pemulung mencari nafkah. Sebuah tempat yang mana sejauh mata memandang hanya kita dapati pegunungan plastik dan sampah-sampah lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu jenisnya. Bagi-bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia ini contohnya, pengelolaan sampah dan daur ulangnya masihlah sangat jauh dari kata standar dan wajib diragukan apa saja sih pekerjaan yang dilakukan kementrian lingkungan hidup. Boro-boro buat pusat daur ulang di setiap kota, wong hepengnya ae ngak jelas lari kemana, Upss. Kita masih jauh tertinggal dalam masalah penanganan dan penyelesaian sampah sampai akar-akarnya dibandingkan Thailand, Vietnam dan Malaysia yang setara dengan kita dan berada dalam lingkup ASEAN.
     Contoh negara yang telah berhasil dalam mengelola dengan baik sampah dan limbahnya adalah negara-negara di Eropa utara, Amerika utara, dan untuk Asia sendiri ada Jepang serta Korea selatan. Mereka benar-benar sangat memperdulikan yang namanya kebersihan lingkungan, dimulai dari menjaga sungai dan aliran air, sehingga sangat jernih dan tidak berbau, jauh berbeda dengan yang ibukota kita punya bukan? Hingga penanganan satwa liar di hutan, semuanya mereka kelola.
    Yang bisa kita lakukan saat ini adalah memberikan kontribusi, sebisa mungkin, semampu mungkin, dan sekecil mungkin dimulai dari rumah kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan, secara bertahap pastinya. Dimulai dengan mengurangi jumlah makanan yang menggunakan kemasan, dan mengurangi kemasan yang kita buang ke tong sampah, yang mana beberapa kemasan air mineral yang berbentuk botol dapat kita manfaatkan sebagai pot bunga bagi yang gemar bertani. Atau dapat kita gunakan untuk membuat vertikultur di dinding. Saya sangat tidak menyarankan untuk membuat kerajinan tangan dan kerajinan dinding, atau hapalah itu namanya, yang hanya menyemak-nyemakkan dinding dan rumah serta menjadi tempat debu berkumpul dan tidak ada manfaatnya selain pajangan dan keindahan. Namun bagaimana pun juga itu keputusan anda, the choices are yours. Sekian itu pendapat saya mengenai membuang sampah ke tempatnya yang sebenarnya tidak menyelamatkan dunia ini sama sekali, mungkin kata yang lebih cocok " membantu menyelamatkan dunia ini ". Kalau anda bertanya apa kontribusi saya? Saya selalu semaksimal mungkin untuk mengutip dan memulung benda-benda yang masih dapat terpakai di sekolah saya saat jam istirahat ataupun setelah pulang sekolah. Lalu selepas itu bagi material-material yang rusak dan cacat dan terbuat dari plastik, akan saya leburkan dan cetak menjadi pot bunga. Baiklah itu saja isi artikel kali ini, sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.

Muhammad Nafis Athallah 02/05/2020

Sumber gambar : https://pixabay.com/
Nafisathallah
Seseorang yang mengagumi ilmu pengetahuan.

Related Posts

2 comments

Post a comment

REKOMENDASI UNTUKMU