IKLAN ANIME PRODUK LOKAL MULAI MENJAMUR DITENGAH PANDEMI


        Belakangan ini, teman-teman sekalian nyadar tidak? Jika mulai banyak iklan ataupun sponsor promosi dari produk-produk di negara kita tercinta ini yang menggunakan format animasi 2 Dimensi layaknya animasi Jepang atau yang sering disebut juga Anime oleh para Otaku dan Wibu (soalnya meeka bakalan marah kalau tontonan favorit mereka disamakan dengan kartun/cartoon). Kira-kira apa yang menjadi latar belakang & penyebab fenomena sosial di bidang entertainment dan advertisement ini? Apakah karena memang karena kebetulan dari pihak marketing-nya sendiri banyak yang Wibu dan Otaku lalu menyewa jasa animator untuk membuat animasi seputar produk mereka, atau karena pihak marketing mulai mengubah strategi, dan melirik pangsa anak muda & kaum milenial yang rata-rata menyukai anime.
        Yahh, semua kemungkinan tersebut itu bisa saja terjadi, namun melihat kondisi dari situasi kita sekarang ini, sepertinya ada hipotesis yang lebih kuat lagi daripada pernyataan diatas. Apa lagi kalau bukan karena wabah virus Covid-19 (Korona) yang hampir menjangkiti seluruh  benua, dan berdampak kepada seluruh sektor kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga dunia hiburan dan entertainment. Dalam hal ini, aktivitas seperti syuting di luar ruangan dan pengumpulan kru-kru dan petugas rekaman menjadi hal yang tidak mungkin dapat dilakukan mengingat wabah virus ini, jika membandel mungkin dari pihak perusahaan sendiri akan dikenai denda oleh pemerintah jika masih ngotot ingin syuting ditengah pandemi ini. Karena keterbatasan akses untuk membuat iklan promosi yang bermutu, perusahaan-perusahaan besar mulai memutar otak dan berpikir untuk penyelesaiannya, mereka dituntut untuk menuruti keinginan pasar disatu sisi juga keadaan yang tidak memungkinkan.
        Jawaban dari masalah mereka adalah, Animasi. Ya! Animasi adalah solusi yang terbaik bagi kalian yang tidak ingin ngumpul-ngumpul, bisa dikerjakan oleh tim kecil atau bahkan jika yang sudah profesional hanya membutuhkan satu orang animator. Keuntungan lainnya adalah, animasi bisa dikerjakan secara online dan tidak perlu pergi ke studio ataupun ke rumah animatornya untuk mengerjakan iklannya, manuskrip dialog untuk karakternya bisa dikirim secara online entah mungkin melalui Whatsapp ataupun Messenger, Video animasinya bisa dikirim melalui google drive atau semacamnya, Dubbing audio nya bisa direkam di rumah voice actornya masing-masing dan juga dikirm secara online, Uang gaji animatornya juga dapat dikirim melalui rekening bank-nya. Sangat praktis bukan? Apalagi ditengah kondisi yang seperti ini.
        Lalu, apakah iklan seperti ini akan hilang dan tidak lagi diminati setelah wabah virus corona sudah berakhir? Jawabannya tentu tidak! Karena sebelum-sebelumnya pun sudah banyak iklan produk yang menggunakan format animasi, sebutkan saja contohnya seperti Pocari Sweat, Gojek, dan Ichi-Ocha, dan hasilnya pun mendapat respon yang baik dari penonton bahkan sempat jadi trending. Terlebih lagi, dari diminatinya iklan animasi oleh para penonton iklan entah itu dari Youtube ataupun TV nasional. Banyak yang mengapresiasinya dan senang ada anime di iklan Indonesia, dengan bagusnya respon dari para penonton, sepertinya iklan-iklan seperti ini akan terus bertambah hari demi harinya, tidak perduli entah itu ada larangan keluar rumah ataupun tidak. Karena yang kita tahu adalah, demografi dari masyarakat kita akan terus berubah seiring tahun, yang berarti selera dan minat masyarakat juga berubah menjadi budaya pop dan sentimen modern seperti anime.
        Intinya, selagi para komunitas wibu dan otaku masih melimpah jumlahnya di Indonesia, maka akan saya jamin, mulai tahun-tahun kedepannya channel Televisi Nasional kita akan dipenuhi dengan karya 2D dan anime akan kembali lagi ke layar TV kita, tepat setelah para Boomers ini pensiun. Para wibu dan otaku disini juga punya andil besar dalam memeriahkan iklan produk yang memakai animasi, mulai dari men-share linknya keseluruh grup keluarga, atau bahkan sampai menggambar fanart tentang karakter di iklannya, ini semua adalah bagaimana cara publik merespon. Jika responnya jelek tentu saja iklan-iklan tersebut akan dicopot dari penayangan karena merugikan, namun nyatanya yang ada sekarang ini malah sukses kan?

- Muhammad Nafis Athallah 16/05/2020

Source Gambar : Tepung bumbu Sasa
Nafisathallah
Seseorang yang mengagumi ilmu pengetahuan.

Related Posts

Post a comment

REKOMENDASI UNTUKMU