SEJARAH JIKA JEPANG MENYERAH TANPA SYARAT BUKAN KARENA BOM ATOM AMERIKA SERIKAT

1 comment
Semenjak kita duduk di bangku sekolah dasar. Terlebih lagi saat sedang pelajaran IPS, kita selalu disuguhkan dengan pernyataan ‘Jepang menyerah tanpa syarat karena dua kota Industrinya dibombardir oleh Amerika Serikat’ pada saat membaca bab yang membahas perebutan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkraman kekaisaran Jepang. 

Namun, tahukah kamu? Jika ternyata semua pengetahuan umum yang telah dipelajari semenjak sekolah dasar itu hanyalah omong kosong belaka.

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai pelaku dibalik menyerahnya pihak kekaisaran jepang dalam perang dunia kedua, kita terlebih dulu harus tau apa itu WW2. Perang dunia kedua merupakan perang dengan skala global yang melibatkan hampir seluruh komponen masyarakat internasional, tidak terkecuali dengan bangsa kita.

Perang ini membuat dunia terbagi kedalam dua kelompok, yaitu ada pihak sekutu (Allies) dan pihak poros (Axis). Negara yang paling berpengaruh di pihak sekutu adalah Tiongkok, Britania Raya, Amerika Serikat, dan Perancis. Sedangkan di pihak poros ada Nazi Jerman, Italia, dan Kekaisaran Jepang.

BACA JUGA : ADA MASALAH APA ANTARA AZERBAIJAN DENGAN ARMENIA

Di lain sisi, ada satu negara lagi yang tampaknya kiprah dan sumbangsihnya di dalam buku sejarah jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali disebutkan. Yaitu, tidak lain dan tidak bukan ada- lah Uni Soviet. Benar sekali, negeri berpaham kiri pimpinan Joseph Stalin tersebutlah yang menjadi dalang tunduknya Jepang di perang dunia kedua. 

Pada awalnya Soviet berpihak pada Jerman di blok poros, namun persahabatan itu dihancurkan Jerman saat mereka mulai menginvasi negara-negara Baltik yang merupakan daerah jajahan Soviet dan melanggar perjanjian damai mereka, akhirnya Uni Soviet pun bergabung bersama Inggris, dan Perancis dalam melawan Jerman didalam blok poros. 

Untuk lebih jelasnya, akan saya jabarkan secara rinci mengenai kronologi seputar takluknya kekaisaran Jepang dalam menghadapi sekutu.



2 Mei 1945, itu merupakan tanggal yang teramat sakral bagi Jerman dan juga Uni Soviet. Pada tanggal inilah kota Berlin berhasil ditaklukan oleh tentara merah, setelah 12 hari lamanya bertem- pur melawan tentara Wehrmacht. 

Dan pada tanggal 7 Mei 1945, Nazi Jerman menyerah tanpa syarat kepada sekutu dalam pertempuran di Eropa. Hal ini menandai bahwa kekuatan utama blok poros telah tumpang dan menyisakan Jepang di timur jauh. 

Ini lah yang membuat bau-bau kekalahan Jepang sudah sangat tercium, apalagi Amerika Serikat juga ikut terseret kedalam peperangan setelah pangkalan mili- ternya di Pearl Harbor, Hawaii diluluhlantakan oleh angkatan perang Jepang pada 7 Desember 1941. 

Maka dari itu, semua kekuatan militer sekutu akan dikerahkan sepenuhnya untuk mengha-bisi kekaisaran Jepang. Sebelumnya, pada tanggal 4-11 Februari 1945 diadakan konferensi Yalta untuk membahas mengenai akhir dari perang dunia kedua dan bantuan Uni Soviet terhadap blok sekutu.

Dimana Joseph Stalin berjanji akan membantu sekutu dalam berperang melawan kekaisaran Jepang yaitu tepatnya 3 bulan setelah Jerman menyerah.

 

Pada akhirnya jepang hanyalah menjadi sebuah kudapan ringan bagi pihak sekutu. Jepang terpaksa memainkan perannya secara solo dan dikeroyok habis-habisan oleh 3 negara adidaya pada saat itu (Britania Raya, Uni Soviet, dan Amerika Soviet). 

Jepang hanyalah tinggal masalah menunggu waktu saja jika kita berpikir dari sudut pandang pasukan sekutu. 

Kekaisaran Nippon, yang tadi awalnya sangatlah agresif dan bar-bar dalam berperang. Malah berbalik menjadi lebih hati-hati dan defensif terhadap daerah pendudukannya. 

Apalagi setelah mereka membom kawasan pangkalan militer Amerika Serikat di Hawaii, mereka terus menerus mengalami kekalahan dan kehilangan banyak wilayah setelah Amerika ikut turut andil dalam berbagai operasi, hingga pada pertempuran Midway di samudera Pasifik pada Juni 1942. 

Pertempuran demi pertempuran membuat pasukan dan persediaan alat tempur milik angkatan tempur Jepang semakin menurun, yang mana berujung pada moral pasukan yang jatuh. 

Namun, bukan Jepang namanya jika menyerah, pasukan-pasukan kerajaan Jepang memiliki fanatisme, kepatuhan dan kedisiplinan yang amat tinggi. 

Mereka bahkan rela melakukan Kamikaze (manuver pesawat bunuh diri) demi menghancurkan kapal musuh, yakni kapal-kapal tempur milik pasukan U.S. Navy. 

Akhirnya, satu persatu daerah koloni Jepang di Asia tenggara dan sekitarnya berhasil direbut kembali oleh sekutu. 

Bahkan Filiphina dan Formosa yang sempat jatuh ke tangan Jepang, dapat diambil alih kembali. Pulau-pulau lainnya di Oceania juga terus menerus digempur oleh sekutu secara masif dan menghasilkan banyak pertempuran-pertempuran nan epik yang mana banyak film terkenal di masa sekarang ini terinspirasi darinya, seperti Iwo Jima, Mariana, Guam, Palau, Tinian, dan Saipan. 

Disaat-saat seperti inilah, Uni Soviet pun muncul demi membayar janjinya di konferensi Yalta. Soviet memiliki banyak kepentingan di wilayah sekitaran kekuasaan Jepang.Tepatnya di kawa-san Manchuria dan pulau Sakhalin. 

Uni Soviet memiliki perbatasan panjang di kawasan Manchuria yang tak kalah pentingnya, karena memiliki banyak akses seperti rel kereta api dan pelabuhan kapal. Jepang berhasil merebut pulau Sakhalin saat perang Russo-Japanese dan langsung menandatangani traktat perjanjian damai dengan Russia yang saat itu masih sebuah kekaisaran berasas Monarki. 

Konferensi Yalta memberi hak kepada Soviet untuk kembali merebut kepulauan Kuril dan Sakhalin dari tangan kekaisaran Jepang untuk membalaskan kekalahan memalukan mereka pada tahun1905.
Jepang pun segera menarik pasukan-pasukannya dari tempat yang tidak dimungkinkan lagi untuk terus dipertahankan seperti China dan Asia tenggara dan segera memusatkannya ke wilayah Manchuria dan pulau Honshu. 

Walau sudah dikeroyok oleh banyak negara, tampaknya tidak ada tanda-tanda dari Jepang, jika mereka akan menyerah. Sudah sangat jelas terlihat sekali, jika Jepang berperang hanya untuk menjaga harga diri dan martabatnya didepan rakyatnya sendiri. Hal ini didukung dengan pernyataan perdana menteri Kantaro Suzuki jika mereka akan melakukan perang total/habis-habisan. 

Little Boy

Di sisi lain, Amerika sedang mengerahkan semua sumber dayanya baik itu ilmuwan maupun mineralnya untuk membuat sebuah senjata pemusnah massal yang tak biasa. Senjata Abnormal ini dinamakan bom Atom yang pengembangannya sendiri dibantu oleh ilmuwan termahsyur pada masanya itu yakni Albert Einstein. 

Sebenarnya Einstein sendiri tidak suka akan perang, namun karena dipaksa oleh keadaan dan ketakutannya akan kekuatan Jerman yang sewaktu-waktu akan bangkit maka ia terpaksa membantu pemerintah Amerika untuk mensukseskan Proyek Manhattan tersebut. 

Maka, dari hasil riset yang juga didukung oleh Kanada dan juga Britania raya tersebut dihasilkanlah dua bom Atom dengan kekuatan maha dahsyat yang nantinya akan dapat dipakai untuk meluluhlantakan seisi kota. Tanggal 6 Agustus 1945, akhirnya Amerika pun mengeluarkan senjata pamungkasnya tersebut dengan menargetkan kota Hiroshima sebagai sasarannya. 

Sebuah pesawat bertipe B-29 milik angkatan udara Amerika Serikat terbang tinggi di atas daratan kota Hiroshima. Pesawat ini membawa sebuah paket khusus yang dinamakan Little Boy. 

Hasil yang ditimbulkan dari ledakan benda ini pun memuaskan, tidak main-main memuaskannya! Dengan korban jiwa sebesar 80.000 jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan pada kota sebesar 90%. 

Amerika benar-benar telah menci-ptakan sebuah senjata Abnormal yang berada di luar akal umat manusia.


Fat Boy 

Pada tanggal 9 Agustus 1945, Bom Atom kedua yang dijuluki Fat man dijatuhkan di atas kota Nagasaki. Usut punya usut, ternyata awalnya Bom ini tidak direncanakan untuk jatuh di atas kota Nagasaki, melainkan kota Kokura. 

Sebelumnya juga, kota Kyoto juga menjadi pilihan alternatif. Namun ditolak karena menyimpan banyak kebudayaan dan warisan seni yang penting.
Disinilah letak kesalahan pada buku-buku pelajaran kita yang juga ingin saya kritik pada kesempatan kali ini. 

Jepang tidak akan menyerah hanya karena dua kotanya hancur, mereka tidak akan goyah hanya karena dua senjata abnormal diledakkan di wilayahnya, inilah yang berbanding terbalik dengan apa yang ada di buku IPS maupun berita propaganda yang digaung-gaungkan di negara kita. Jepang hanya akan menyerah di tangan Soviet, dan pada tanggal 9 Agustus 1945 bertepatan dengan jatuhnya bom Fat Man, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang. 

Tentara Jepang tidak sanggup menahan gempuran pasukan Soviet yang lebih bugar dengan persediaan yang lengkap, dan kurangnya personel Jepang karena banyak pasukannya yang dikerahkan di selatan untuk menghadang Amerika. Uni Soviet akhirnya berhasil menaklukan Manchuria dengan sangat cepat dan bersiap-siap untuk menyerbu pulau Sakhalin dan kepulauan Kuril.

 Hal ini tentu mengagetkan pihak Jepang, karena hanya diperlukan waktu beberapa hari bagi Soviet untuk merangsek masuk lebih dalam lagi ke tubuh jepang. Amerika sendiri direncanakan perlu waktu setidaknya setahun untuk menguasai Jepang.



Jika pulau Sakhalin dan Kuril sudah ditaklukan, maka pihak Uni Soviet akan terus masuk ke pulau Hokkaido dan akhirnya masuk ke pulau Honshu, jantungnya kekaisaran Jepang. 

Para petinggi dan bangsawan Jepang sangatlah khawatir dengan hal ini, bom atom mungkin tidak dapat menghancur-kan kehormatan mereka, namun Soviet lain ceritanya. Uni Soviet sangatlah membenci sistem Monarki, jika kita melihat kebelakang, para anggota keluarga Romanov, keluarga yang memerintah kekaisaran Russia dibunuh secara brutal oleh orang-orang berpahamkan komunis ini. 

Jelas Jepang sangat ketakutan dengan hal ini, bagaimana tidak? Kekaisaran Jepang dan keluarganya telah berdiri kurang lebih dari 1000 tahun, maka keruntuhan dari sebuah kekaisaran adalah aib yang sangat memalukan bagi mereka. Apalagi selama ini kaisar di Jepang sudah dianggap dewa oleh masyarakatnya sendiri, sehingga mengakibatkan fanatisme yang berlebihan terhadap Monarkinya. 

Hal inilah yang membuat para bangsawan Jepang berpikir jika mereka kalah ditangan Soviet, maka semua anggota kerajaan akan dibantai habis-habisan dan Jepang akan menjadi negara republik.



Bagi Jepang, menyerah kepada Amerika yang liberal adalah pilihan terbaik daripada jatuh ke tangan Soviet yang komunis tersebut. Ditambah, bom atom yang dijatuhkan Amerika merupakan kambing hitam yang sempurna sebagai alasan bagi mereka kalah dalam perang dunia kedua. 

Jika Jepang menyerah di perang karena Uni Soviet, maka mereka akan berterus terang kepada rakyatnya jika mereka kalah secara militer dan akan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap rakyatnya. 

Namun, apabila Jepang menyerah di perang karena Amerika maka penduduknya dan juga bahkan masyarakat dunia akan bersimpati dan memaklumi apa yang terjadi dengan Jepang, jika mereka kalah karena sebuah senjata baru yang tidak masuk diakal, yakni bom atom. Pada akhirnya mereka pun menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. 

Jadi intinya, Jepang masihlah dapat terus berperang walaupun mereka ditimpa dua bom atom sekaligus, karena pada dasarnya mereka akan bertempur sampai titik darah penghabisan. 

Namun, saat melihat ancaman penggulingan kekuasaan dari Uni Soviet mereka ketakutan dan tidak berani untuk macam-macam karena tahta kerajaan menjadi taruhannya. 

Jepang memiliki harga diri dan martabat yang sangat tinggi sekali, sehingga mereka gengsi untuk tidak mempertahankannya. Maka tidaklah sesuai jika Jepang menyerah kepada sekutu karena Amerika, melainkan karena Soviet.

BACA JUGA : MELURUSKAN PEMBENCIAN TIDAK BERDASAR KE YAHUDI

“Sejarah ditulis oleh para pemenang.” Itulah yang dikatakan oleh Winston Churcill, Amerika merupakan satu-satunya negara adidaya yang mampu mempertahankan pamornya hingga sekarang ini. Mereka lah yang menulis ulang sejarah, membungkam orang-orang yang ingin membongkar rencana-rencana busuk mereka, membuat ribuan karya yang mengangung-agungkan kepahlawanan tentara mereka,menerbitkan film-film tentang kisah-kisah heroik pahlawan mereka yang tidak sebanding dengan kerusakan yang mereka perbuat. 

Sungguh, tidak ada yang baik dan yang jahat di dunia ini! Setiap orang melindungi apa yang mereka cintai, jadi tidak pantaslah jika kita menyebut Jepang adalah iblis yang harus dibumi hanguskan sementara Amerika adalah pahlawan kebenaran yang telah menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, sungguh naif sekali orang yang berpikiran seperti itu. Makanya, kita harus membuka mata kita lebih lebar, memilah-milah yang mana yang batil dan yang hak sesuai hati nurani kita masing-masing.

Entah memang karena kurang terkini atau penulisnya kurang ilmu atau gimana-gimana yang saya tidak tahu, alangkah lebih baiknya buku-buku sejarah kita menam-pilkan peran Uni Soviet dalam mengalahkan Jepang, jangan hanya karena kita memiliki masa lalu yang kelam dengan komunisme, sampai-sampai kita menutup mata hati ilmu pengetahuan dan menggantinya dengan propaganda menyesatkan. 

Tidak selamanya apa yang tercantum dibuku adalah kebenaran mutlak, tidak semua hal yang ada di buku harus kau hayati dan percaya buta tanpa membuktikannya terlebih dahulu. 

Karena pada dasarnya buku adalah ciptaan manusia, dan manusia adalah tempatnya salah dan kekurangan. Sekian dan terima kasih, hormat saya Muhammad Nafis Athallah dari SMP Negeri 7 Medan dan dari kelas IX-6.
Nafisathallah
Seseorang yang mengagumi ilmu pengetahuan.

Related Posts

1 comment

Post a comment

REKOMENDASI UNTUKMU